Jumat, 03 September 2010

BAHASA ROH (GLOSOLALIA)



I. Pendahuluan
Bahasa Roh merupakan sebuah istilah teologis yang perlu dipahami apa dasar biblisnya? Bagaimana latar belakangnya dan bagaimana maknanya dalam kehidupan jemaat Kristen? Di kalangan orang Kristen   sering kali bahasa  roh menjadi isu yang kontroversial. Sebagian pro dan sebagian kontra. Ada kelompok yang mementingkan bahasa roh dan mempraktekkannya, ada kelompok yang anti pati  dan menolak praktek bahasa roh. Untuk memahami apa makna istilah bahasa roh secara biblis, maka dalam hal ini akan dibahas dari tinjauan biblis.
II. Terminologi
Istilah bahasa Roh atau bahasa lidah,  (glôssolalia, Yunani), secara eksplisit ungkapan ini tidak ada dalam Perjanjian Baru. Bahasa roh merupakan gabungan dari kata glôssa yang berarti lidah, organ tubuh yang digunakan untuk berbicara, dan kata kerja laleô, berbicara, berkata, mengeluarkan suara dari mulut.[1] Istilah ‘bahasa lidah’, ‘bahasa asing’, ‘bahasa roh’, dalam Perjanjian Baru menggunakan kata yang sama yaitu 'γλωσσα - glôssa', "lidah". Markus 16:17 menulis 'γλωσσαις λαλησουσιν καιναις; glôssais lalêsousin kainais', "berbicara dengan lidah yang 'baru'"; Kisah Para Rasul 2:4 menulis 'lalein heterais glôssais', "berbicara dengan lidah yang 'lain'" Mulai Kisah Para Rasul 10:45 dan seterusnya tidak ada lagi kata 'heterôs' (yang lain) maupun 'kainos' (yang baru), melainkan kata kerja λαλεω - laleô, "berbicara" dan 'γλωσσα - glôssa', "lidah".  Jadi, baik dalam Kisah Para Rasul maupun surat Korintus menggunakan kata dan ungkapan yang sama yang dewasa ini dikenal dengan 'γλωσσολαλια - glôssolalia'[2].
Jadi Ada dua jenis bahasa lidah, yaitu bahasa lidah yang dimengerti oleh orang lain (Kisah 2:4)[3] dan bahasa lidah yang harus ditafsirkan karena tidak dimengerti oleh orang lain (1 Korintus 14:2) [4]
Baik bahasa "lidah" atau karunia "lidah" dengan bahasa "roh" itu sama saja. Kedua-duanya diterjemahkan dari kata Yunani ‘glôssa’. Istilah bahasa lidah atau karunia lidah akrab bagi kalangan tempo dulu  yang akrab dengan Alkitab Terjemahan Lama, yaitu sebelum tahun 1974. Karunia roh dalam Kisah Para Rasul (dimengerti oleh orang lain) dan surat kiriman Paulus (tidak dimengerti oleh orang lain) menggunakan kata yang sama yaitu ‘glôssa’.[5]
Bahasa lidah pertama kali dalam Kisah Para Rasul pasal 2 merupakan "bahasa-bahasa" (bentuk jamak), tidak berbeda dengan bahasa lidah dalam jemaat Korintus. Kedua-duanya tidak dimengerti oleh pembicara, dalam Kisah Para Rasul hanya dimengerti oleh orang lain, sedangkan dalam Korintus tidak dimengerti orang lain, oleh karena itu memerlukan penafsiran dan/atau penerjemahan. Kata Yunani 'hermêneia' di samping bermakna menafsirkan juga bermakna menterjemahkan (lihat, Yohanes 1:38; 1:42; 9:7; Ibrani 7:2. [6]
Jadi glossolalia secara harafiah berarti “berbicara dengan lidah” atau “berkata-kata dengan bahasa”. Dalam kitab Perjanjjian Baru fenomena “glossoalalia” biasanya diungkapkan dengan menggunakan kata kerja “lalein” dengan kata benda “glossa” baik tunggal maupun jamak dalam kasus datif. Oleh sebab itu sering ditemukan ungkapan “lalein (en) glosse” yang berarti berbicara (berkata-kata) dengan (dalam) lidah (bahasa), atau “lalein (en) glossais“ yang berarti “berbicara (berkata-kata) dengan (dalam) lidah-lidah (bahasa-bahasa)” (bnd. Kis 10:46; 19:6; 1 Kor 12:10.30; 13:1; 14:2.4-6.9.13.23.27.39). Bila dilihat konteks penggunaan kata benda “glossa” menunjukkan tiga arti yang berbeda yaitu:[7]
1.      Arti fisiologis, yakni “lidah” sebagai “alat berbicara” manusia (bnd. Mzm 39; 52:4; Ams 6:17; 10:31; 17:4; Luk 1:64; 16:24).
2.      Arti filologis, yakni “bahasa” sebagai “sarana” komunikasi” antar manusia (bnd. Yes 66:18; Dan 3:7). Dalam bahasa Ibrani bahasa adalah “leshonah” yang paling sering diterjemahkan “lidah”, yang ditujukan pada salah satu anggota tubuh yang menghasilkan perkataan (Hakim-hakim 7:5; 2 Samuel 23:2) atau juga “bahasa” (Ester 1:22; 3:12; Yeremia 5:15; Yehezkiel 3:5,6). Kata Ibrani, leshonah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, “glossa” (bdg. Yesaya 28:11 dan 1 Korintus 14:21). Glossa juga berarti “lidah”, salah satu anggota tubuh (Markus 7:33,35), “lidah-lidah seperti nyala api” (Kisah Rasul 2:3), atau “bahasa” (Kisah Rasul 2:4,11; 10:46; 19:6. Kalau kita lihat dalam Kisah Rasul 2:4-11, para rasul berbicara dalam berbagai-berbagai bahasa secara ajaib. Di dalam ayat 6, orang-orang yang hadir pada hari Pentakosta itu masing-masing mendengar para rasul berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa yang terdapat dalam Kisah Rasul 2:4, 11, jelas adalah bahasa pribumi para penganut agama Yahudi yang datang untuk merayakan hari raya Pentakosta di Yerusalem[8].
3.      Arti pneumatologis, yakni “bahasa roh” (bnd. 1 kor 14:19.22.26) dalam hal ini berfungsi sebagai “wahana doa” manusia kepada Allah (bnd. 1 Kor 14:2.13; 2 Kor 12:2-4)
Sehubungan dengan ketiga arti di atas, Paulus membedakan arti filologis dengan arti pneumatologis dengan menggunakan istilah “glossa ton anthropon” (bahasa manusia) dan “glossa ton angelon” (bahasa malaikat). Istilah “glossa’ dalam artian “bahasa roh” atau bahasa malaikat” merupakan “bahasa gaib” nampaknya sulit untuk dipahami (bnd. 1 Kor 12:2.916.19.23), maka perlu penafsiran atau penjelasan khusus untuk memahaminya (bnd. 1 Kor 12:10.30; 14:5.13.27-28). Keunikan bahasa gaib ini umumnya diungkapkan dengan menambahkan kata tertentu pada rumusan “lalein glossais”, contohnya: “lalein glossais kainais” yang berati “berbicara dalam bahasa-bahasa baru” (bnd. Mrk 16:17) atau “lalein heterais glossais” yang berarti “berbicara dalam bahasa-bahasa lain” (bnd. Kis 2:4). Dalam tulisan Injil Markus, untuk menunujukkan sifat keistimewaan dari bahsa gaib, Markus menambahkan kata sifat “kainos” yang berarti “baru”, sedangkan Lukas menambahkan kata sifat “heteros” yang berarti “lain”.[9]
Dalam pandangan Paulus “bahasa gaib” ini merupakan suatu “karunia Roh” (bnd. 1 Kor 12:1; 14:1.12) atau “manipestasi Roh” (bnd. 1 Kor 12:7) yakni suatu “kharisma” yang dianugerahkan kepada oranag tertentu (bnd. 1 Kor 12:4.28.30), demi kepentingan”pemberitaan Injil” (bnd. Mrk 16:15-18; Luk 24:46-49; Kis 1:4-8; 2:1-13) dan pembanguan jemaat (bnd. 1 Kor 12:7; 14:12.26). Karena “bahasa gaib” ini berasal dari Roh Kudus, maka lazim disebut “bahasa roh”, meskipun dalam teks aslinya hanya tertulis “glossa” yang secara harafiah berarti “lidah” atau “bahasa” atau bahasa roh (bnd. Kis 2:4;10:46; 19:6)[10] Pemahaman istilah “bahasa roh” menurut Lukas dalam Kisah Para rasul 2:2-4, tidak lain tidak bukan adalah “bahasa yang dikaruniakan oleh Roh Kudus” sebagaimana yang dijanjikan oleh Yesus kepada para muridNya. Kehadiran Roh Kudus ditegaskan oleh Lukas dengan menonjolkan kedasyatan kedatangannya dalam wujud “bunyi seperti tiupan angin keras” dan “lidah-lidah seperti nyala api” (Kis 2:2-3), seperti ketika Allah menampakkan diri di gunung Sinai (bnd. Kel 19:16-20; Ul 4:11-12). Pengutusan Roh Kudus tersebut adalah supaya para murid-murid Yesus sanggup menjadi saksi-saksiNya (bnd Luk 24:46-49; Kis 1:4-8). Pemenuhan janji mengenai pengutusan Roh Kudu juga ditegaskan oleh Petrus (bnd Kis 2:14-21), dengan mengutip nubuat nabi Yoel tentang “pencurahan Roh Allah” ke atas semua manusia, sehinggga mereka akan “bernubuat” seperti nabi (Yl 2:28-32). Pengutusan Roh Kudus juga ditegaskan oleh Yohanes di dalam Injilnya, dimana Yesus menjanjikan seorang “penghibur” (parakletos), yakni “Roh Kebenaran” (to Pneuma tes aletheias), yakni tidak lain adalah “Roh Kudus” ,Menurut Yesus Roh Kudus inilah yang akan selalu menyertai, mengajarkan, mengingatkan, bersaksi, mengisafkan dunia, memimpin para murid ke dalam kebenaran dan penghakiman, dan akan “memebritakan” kepada mereka hal-hal yang akan datang (bnd. Yoh 14:15-17.25-26; 15:26-27; 16:7-15). Jadi menurut Lukas, dan Petrus maupun Yohanes, “bahasa Roh” adalah “karunia istimewa dari Roh Kudus untuk kepentingan pemberitaan Injil” tentang Yesus[11].
III. Latar  belakang fenomena Bahasa Roh
3.1.Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama fenomena bahasa roh menunjukkan “karunia Roh kenabian” yang memungkinkan orang untuk “bernubuat”. Misalnya dalam kitab Samuel, diceritakan “Roh Allah berkuasa atas Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka (1 Sam 10:10). Selama Roh Allah memenuhi tubuh Saul, ia berubah menjadi manusia yang lain (bnd. 1 Sam 10:6). Kisah berikutnya, rombongan nabi yang dipimpin oleh Elisa sering “kepenuhan roh” dan “berbicara aneh”, sehinga dianggap orang-orang gila ( bnd 2 Raj 9:11). Jadi dapat disimpulkan bahwa fenomena “kepenuhan roh” atau “kerasukan roh” yang membuat orang mampu untuk “bernubuat” atau “berkata-kata dengan bahsa roh”, suadah terjadi sejak zaman dahulu kala[12].
3.2.Perjanjian Baru
3.2.1.      Kisah Para Rasul
Pencurahan roh berkaitan erat dengan “tugas kenabian’ kepada orang banyak. Korelasi “pencurahan roh” dengan “tugas kenabian” ini jelas ditegaskan oleh Petrus dalam khotbahnya pada hari  Pentakosta di Yerusalem (bnd. Kis 2:14-21). Paulus dalam suratnya menegaskan  hubungan langsung antara “tugas kenabian” dan “karunia bahasa roh” ditegaskan dalam suratnya secara khusus kepada jemaat di Korintus (bnd. 1 Kor 14:21-22), dengan mengutip nubuat Yesaya kepada bangsa Israel ( bnd. Yes 28:11-12)[13]
Menurut Kisah para Rasul fenomena bahasa roh pertama kali muncul dalam jemaat Kristen pada “perayaan pentakosta di Yerusalem (Kis 2:1-4). Peristiwa itu dilukiskan oleh Lukas sangat monumental (bnd. Kis 2:4). Banyak orang yang tercengangra mendegar “bahasa roh”. Lukas juga mengisahkan kejadian serupa  tentang kisah Kornelius di Kaisarea sekeluarga (bnd. Kis 10:1-48), dan kisah tentang murid-murid di Efesus (bnd. Kis 19-1-12). Melalui ketiga kisah ini, Lukas hendak menekankan karya Roh Kudus bagi orang-orang beriman, baik yang dibabtis maupun yang belm dibabtis. Pada peristiwa Pentakosta di Yerusalem, Roh Kudus membrikan karunia khusus kepada para rasul untuk “berkata-kata dalam bahasa lain’ (Kis 2:4) “tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah” (Kis 2:11) kepada orang-orang Yahudi yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Karunia bahsa roh yang diberikan kepada para rasul, supaya mereka dimampukan untuk memberitakan Injil kepada Yahudi yang seang berkumpul di Yerusalem (bnd. Kis 2:5). Berkat karunia bahsa roh yang diterima oleh para rasul, banyak orang Yahudi yang bertobat pada waktu itu.[14]

3.2.2.      Konteks pemahaman “bahasa roh” dalam jemaat Korintus (1 Kor 12-14)
Berbicara dalam bahasa roh ialah suatu karunia Roh yang disebutkan dalam Mrk 16:17; Kis 10:44-46; 19:6, lalu dibicarakan dalam Kis 2:1-13 dan I Kor 12-14. Tatkala murid-murid yang telah berkumpul dan dipenuhi dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta, mulailah mereka ‘berkata-kata dalam bahasa-bahasa (glossai) lain seperti yang diberitakan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakannya’(Kis 2:4), sehingga banyak orang Yahudi dari luar Palestina tercengang mendengar puji-pujian bagi Allah dalam bahasa-bahasa (glossa. Ayat 11) dan dialek-dialek yang dipakai di negeri mereka sendiri.[15]
Peristiwa bahasa lidahdalam  Kisah Para Rasul hanya terjadi tiga kali dan hanya dialami oleh sekelompok orang saja.  Yaitu 120  murid Tuhan yang berdoa bersama di Yerusalem, Kornelius dan rekan-rekannya  serta  murid- murid di Efesus. Jadi bukan setiap orang Kristen dikaruniai atau dapat berbahasa lidah dan tidak terjadi berulang-ulang atau setiap kali dalam Kebaktian bersama! Sehingga dapat disimpulkan bahwa Bahasa Lidah yang terjadi dalam Kisah Rasul berbeda dengan Bahasa Lidah yang dipraktekkan dalam Jemaat Korintus[16]
Bahasa roh dalam Kisah Para Rasul berbeda dengan bahasa roh yang terdapat pada 1 Kor 13-14 dari beberapa segi:[17]
a.       Di Yerusalem, Kaisarea dan Efesus, bahasa roh itu dipakai untuk semua orang sebagai tanda bahwa mereka orang percaya, sementara di Korintus dipakai oleh pribadi yang memiiki karunia tersebut.
b.      Bahasa Roh dalam Kisah rasul tidak perlu diterjemahkan sementara di Korintus harus diterjemahkan, yang bertujuan untuk penginjilan dan pembangunan jemaat.
c.       Bahasa roh di Yerusalem, Kaisarea, dan Efesus adalah bahasa manusia sedangkan dalam Korintus bukan bahasa manusia dan membutuhkan karunia khusus dari Roh untuk menterjemahkan
Dalam surat pertama Paulus kepada jemaat Korintus, mengisyaratkan bahwa fenomena bahasa roh tidak hanya terjadi di Yerusalem, Kaisarea, dan Efesus, tetapi juga di Korintus. Glôssolalia yang timbul di Korintus dalam beberapa segi berbeda dari yang diterangkan dalam Kitab Kisah Para Rasul di Yerusalem, seperti yang di Kaisarea dan Efesus, seluruh kumpulan menerima karunia yang diinginkan itu (1 Korintus 12:10,30). Nampaknya dalam Kitab Kisah glôssolalia merupakan pengalaman mula-mula yang bersifat sementara dan yang tak dapat ditolak, tetapi di Korintus terletak dibawah kuasa si pembicara dalam bahasa roh itu (1 Korintus 14:27-28 ).
Saat Pentakosta ‘kata-kata Roh’ itu segera dimengerti oleh pendengar, tapi di Korintus karunia tambahan untuk menafsirkannya harus ada untuk membuatnya dapat dimengerti (Ayat 5,13,27). Hanya pada peristiwa Pentakosta berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain disebut secara khusus. Tapi dimana-mana glôssolalia dilukiskan sebagai terdiri dari ucapan yang jelas dan bermakna, yang diilhamkan Roh Kudus dan digunakan terutama dalam ibadah (Kisah 2:11; Kisah 10:46; 1 Korintus 14:2, 14-17, 28 ).
Bahasa-bahasa roh, bermacam-macam sifatnya (1 Korintus 12:10). Di Korintus agaknya bahasa roh itu bukan bahasa asing, yang dinamai Paulus dengan kata lain (phone , 1 Korintus 14:10-11), sebab yang harus ada untuk memahaminya bukanlah kepandaian ilmu bahasa, tetapi suatu karunia khusus (bnd. 1 Kor 14:10-19).
Bahasa roh itu bukan hanya suara-suara yang tak berarti yang bersifat kesurupan, walaupun nalar budi si pembicara tidak berkenan (ayat 13-14) dan ucapan-ucapannya tetap tidak dapat dimengerti bahkan olehnya sendiripun, jika tiada yang menafsirkan, sebab kata-kata (ayat 19) dan maknanya (ayat 14-17) tetap diakui, dan bahasa roh yang sudah ditafsirkan sama nilainya dengan nubuat (ayat 5). Suatu bentuk bahasa tertentu diisyaratkan oleh kata Yunani untuk ‘menafsirkan’, yang dimanapun dalam PB terkecuali Lukas 24:27, selalu berarti ‘menterjemahkan’. (bnd. 1 Kor 12:10)
Ada hal menarik jika ingin mengkaji kata "yang lain" menurut 1 Korintus 12:10. Bahasa Yunani menggunakan dua kata yang bermakna "yang lain" yaitu 'allôs' dan 'eterôs'. Ilustrasinya demikian : Jika seseorang menawarkan buah mangga kepada saya dan saya minta 'allôs', berarti saya minta "mangga" yang lain, namun jika saya minta 'eterôs', berarti saya minta "buah" yang lain (yang bukan mangga), barangkali jambu. Nah, baik mujizat, nubuat, dan penafsiran bahasa lidah menggunakan kata 'allôs', "yang lain" dari jenis yang sama, tetapi khusus untuk bahasa lidah itu sendiri menggunakan kata 'eterôs', "yang lain" dari jenis yang berbeda. Yang tidak kalah menarik adalah bentuk tunggal dan jamak, hanya dua saja yang ditulis dalam bentuk tunggal yaitu 'prophêteia', "nubuat", dan 'hermêneia', "penafsiran"; yang lain ditulis dalam bentuk jamak. Jadi, seseorang dapat mengadakan banyak mujizat, yang lain dapat berkata dalam banyak bahasa lidah, tetapi hanya satu nubuat dan satu penafsiran saja bagi yang lain pula.
Rupanya ada jabatan penafsir dalam jemaat mula-mula, yang bertugas secara resmi menafsirkan ucapan-ucapan dalam bahasa lidah yanag terjadi pada waktu pertemuan jemaat (1 Kor 12:30; 14:28).  Nampaknya di Korintus banyak anggotaa jemaat berbasaha lidah ( 1 Kor 14:23), namun hanya beberapa orang yang mendapat karunia penaafsiran ( 1 Kor 14:28).  Namun dalam Alkitab tidak ada disebutkan secara langsung bagaimana teknis terjadinya penfsiran bahasa lidah. Namun dapaat disebutkan penafsiran bahasa lidah adalaha karunia, yaitu suatu ilham dan tidak merupakan pengertian intelektual.  Sebagaimana Roh mendorong manusia  berbahasa lidah demikian juga Roh mendrong seseorang untuk menafsirkan bahasa lidah tersebut. Penafsiran itu bukanlah terjemahan bahasa-bahasa manusia yang biasa ke dalam bahsa lain, melinkan suatu penjelasan atau penguraian yang mengungkapkan inti ucapan bahasa lidah tersebut.[18]
Dengan demikian dapat dipahami bahwa karunia berbahasa roh dan penafsiran bahasa roh itu harus berjalan sejalan. Karena apa gunanya suatu perkataan yang tidak jelas artinya diucapkan? Tentulah hal ini tidak berguna, kecuali ada orang yang dapat menafsirkannya atau ia sendiri juga dapat menafsirkannya. Untuk itulah Allah memberi karunia yang disebut ‘penafsiran bahasa-lidah’ (I Kor 12:10) 
Karunia penafsiran bahasa roh itu merupakan ucapan ilahi melalui Roh yang memberikan arti terhadap suatu ucapan dalam bahasa lain. Ia bukan merupakan terjemahan bahasa roh, melainkan ia merupakan tafsiran dari bahasa roh, yang juga merupakan suatu ilham tersendiri, dan tidak merupakan pengertian intelektual akan bahasa-lidah, sebagaimana Roh mendorong seseorang berdoa dalam bahasa lidah maka Roh yang sama akan mendorong seseorang memberi pengertian bahasa lidah tersebut.[19]
  Karunia tentang penafsiran bahasa roh ini merupakan karunia yang paling rendah tingkatannya dari deretan karunia-karunia yang lainnya, sebab ia tidak dapat bekerja tanpa adanya kegiatan bahasa roh. Tujuan daripada karunia ini ialah untuk memberikan kepada karunia bahasa roh itu pengertian yang dapat dipahami bagi para pendengarnya agar supaya sidang jemaat maupun pemilik dari karunia itu dapat mengetahui apa yang telah dikatakan oleh dirinya, sehingga dengan demikian iman mereka dapat dibangunkan. [20] Oleh karena itu karunia-karunia Roh harus diusahakan untuk dipergunakan membangun jemaat. Jadi siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh, haruslah berdoa agar diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.[21]
Karunia berbicara dalam bahasa roh sebenarnya mirip dengan karunia nubuat karena karunia ini menyampaikan pesan Tuhan. Hanya pesan Tuhan itu disampaikan itu dalam rupa bahasa roh, sehingga baru bisa dimengerti jika disertai karunia tafsirannya. Ini berbeda dengan karunia berdoa dalam bahasa roh yang merupakan suatu karunia untuk berdoa secara adikodrati. Dengan karunia berdoa dalam bahasa roh ini, roh kitalah yang—dengan dibantu oleh Roh Kudus-berdoa kepada Allah, sedang akal budi kita tidak ikut berdoa. Maka karunia berdoa dalam bahasa roh ini memang tidak dapat dimengerti oleh akal budi (bdk. 1Kor 14:2.14; Rm 8:26). Roh berdoa untuk kita, artinya kata-kata yang tidak mampu diucapkan manusia, namun Roh menyambut keluhan kita dan menyalinnya ke dalama bentuk yang sesuai dengan kehendak Allah, sehingga layak didengarkan oleh Tuhan.[22] Walaupun doa bahasa roh pertama-tama adalah doa pujian, namun doa bahasa roh ini juga merupakan doa permohonan yang sangat efektif. Letak “ke-efektifan-nya” ada pada Roh Kudus yang membantu roh kita untuk berdoa (bdk. Rm 8:26). Seringkali, dengan akal budi kita, kita tidak mengerti apa yang menjadi inti permasalahan seseorang ataupun inti permasalahan kita sendiri sehingga kita tidak tahu bagaimana atau apa yang harus didoakan. Dengan karunia doa yang adikodrati (melampaui kodrat) ini, Roh Kudus membantu kita melampaui/mengatasi hambatan dalam akal budi ini dan langsung mengajar roh kita bagaimana harus berdoa. Manfaat doa bahasa roh sebagai doa permohonan pun bisa kita alami dalam acara doa bersama. Dalam acara doa bersama, bisa terjadi seseorang didorong untuk mengajak mendoakan sesuatu/seseorang secara bersama-sama, maka ia bisa mengajak, “Marilah kita berdoa bagi ….”dan jemaat kemudian mengikuti ajakan itu dengan berdoa dalam bahasa roh bersama-sama[23]
Sehubungan dengan pengunaan karunia bahasa roh, Paulus mengajukan tiga prinsip umum yang harus dipegang oleh Jemaat[24]:
a.       Penggunaan karunia bahasa roh harus bermanfaat dalam pembangunan jemaat dalam kasih (bnd. 1 Kor 13:1-13; 14:4-5.17-19.26; Ef 4:16; Kol 3:14). Apabila karunia bahsa roh hanya bermanfaat bagi individu, maka hal itu bermanfaat dalam pembangunan jemaat.
b.      Penggunaan karunia roh hendaknya memelihara dan menjaga ketertiban dalam ibadah bersama (bnd. 1 Kor 14:13-19.23-33.40)
c.       Penggunaan karunia roh harus disertai dengan penggunaan karunia penfsiran bahasa roh (bnd. 1 Kor 14:27)
IV. Pemahaman Gereja Kharismatik tentang Bahasa Roh
Berbicara mengenai Bahasa Roh, maka arah pikiran dan tujuan seseorang langsung mengarah kepada Gereja yang beraliran Kharismatik, karena inilah yang menjadi ciri khas dari gereja kharismatik. Menurut keyakinan mereka, berkata-kata dalam Bahasa Roh ialah berkata-kata dengan roh manusia (yang berbicara kepada Allah ialah roh manusia). Dalam gereja kharismatik konsep-konsep glossolalia/bahasa roh sebagai “bahasa-yang-diilhami-Allah” maupun bahasa Roh sebagai “Praktek Kristiani yang relevan/sah” belum  dapat diterima secara umum.[25] Umumnya Bahasa Roh/Bahasa-Lidah  sangat jarang disebutkan dalam Alkitab, namun hal itu tidak berarti bahwa bahasa-lidah kurang penting. Secara temporer bahasa-lidah telah muncul sepanjang sejarah gereja, tetapi boleh dikatakan bahwa sampai dengan abad ke-19 bahasa-lidah hampir tidak dikenal oleh sebagian besar orang Kristen. Sedangkan sejak tahun 1901 karunia bahasa-lidah telah menjadi ciri khas jemaat-jemaat Pentakosta dan Kharismatik, sehingga jutaan manusia telah mengalaminya pada abad ke-20[26]
Menurut aliran ini, gereja adalah suatu persekutuan kharismata, persekutuan orang-orang percaya yang menerima berbagai karunia dari Yesus Kristus. Maksud dan tujuan gerakan ini adalah memberikan kepada anggota-anggota jemaat suatu penghayatan iman yang lebih intensif. Penghayatan ini disertai dengan rupa-rupa karunia yang tidak lazim lagi dalam banyak Gereja pada waktu itu, seperti :bahasa Roh, nubuat, penyembuhan orang sakit, dan lain-lain. Secara khusus Gereja  kharismatik telah memberikan dampak yang besar dalam kehidupan semua gereja, gerakan ini juga telah menimbulkan inspirasi dan kebangkitan kembali hidup kerohanian yang banyak dibutuhkan di antara gereja-gereja dan para individu. Gerakan kharismatik adalah suatu aliran gereja yang selalu mengandalkan kharismata, yang merupakan pemberian Allah melalui Roh Kudus. [27]
Adapun ciri khas gerakan Kharismatik ini adalah: [28]
a)      Menyanyikan lagu pujian dengan penuh semangat secara berulang-ulang.
b)      Berdoa panjang dan mengutarakan isi hati dengan penuh perasaan dan penghayatan.
c)      Memiliki semangat yang tinggi untuk melayani dan bersaksi,
d)      Memberi perhatian penuh tentang masalah-masalah eskatologi
e)       Keterbukaan hati dapat menerima kuasa Roh Kudus saat menyanyikan lagu pujian
f)        serta yang menjadi salah satu ciri utama dari gereja kharismatik adalah berkata-kata dalam Bahasa Roh
Bahasa Roh merupakan suatu ucapan atau ungkapan, yang pengertiannya tergantung pada si pendengar dan konteksnya, bisa sebagai bahasa asing (xenoglossia), bisa sebagai suku-suku kata yang tampak tidak berarti, atau sebagai bahasa mistis yang tidak dikenal; di mana ucapan atau ungkapan ini biasanya muncul sebagai bagian dari penyembahan religius (glossolalia religius). Dalam pemahaman jemaat tentang bahasa Roh, gereja kharismatik membuat 4 tipe atau tingkatan dalam berbahasa lidah, yakni :[29]
  1. Berbahasa lidah yang sulit di pahami, suara tidak jelas, ungkapan kata, vokal, bunyi tidak jelas (Inarticulate sound or littering)
  2. Suatu ungkapan kata di mana setiap awal suku kata sama bunyinya (Articulate sound or pseudo language)
  3.  Kata yang diungkapkan yang kedengarannya sudah seperti bahasa, walaupun arti dan maknanya tidak dimengerti (Articulate and combained language – like sound, or a fantasy language)
  4. Bahasa yang diungkapkan, yang memang benar-benar bahasa dari suatu suku bangsa tertentu, yang merupakan bahasa asing dan yang tidak dimengerti oleh yang berbahasa lidah itu (Automatic speech in a real language)
Dengan pemahaman ini maka menurut pemimpin-pemimpin gerakan kharismatik berkata-kata dengan bahasa roh itu tidak ada sangkut pautnya dengan luapan emosi seperti yang lebih banyak dilaksanakan pada saat sekarang ini. Kesalahan separuh pengikut gerakan kharismatik itu ialah : dalam doa mereka-khususnya di kumpulan-kumpulan doa-mereka terlampau banyak memberi diri mereka dikuasai dan dipimpin oleh emosi mereka. Apa yang mereka lakukan itu, menurut ajaran dari gerakan kharismatik adalah suatu penyalahgunaan dari karunia berbahasa roh. Akan tetapi yang penting diperhatikan dalam hal ini yaitu : Arahkanlah pikiranmu kepada Allah, kalau engkau mau berkata-kata dengan bahasa roh karena apabila suasana hati telah dikuasai perasaan emosi yang berlebihan maka hal ini dapat menjadi halangan besar untuk menerima Roh Kudus. [30] Ajaran kharismatik membedakan dua macam karunia bahasa roh, yaitu karunia bahasa roh untuk membangun diri sendiri dan oleh karena itu tidak perlu ditafsirkan karena karunia ini dapat diberikan dimana saja. Yang kedua yaitu untuk membangun jemaat dan karena itu harus ditafsirkan. Karunia bahasa roh ini biasanya diberikan dalam ibadah-ibadah jemaat atau dalam pertemuan-pertemuan Kristen lain yang diperuntukkan bagi orang-orang yang belum percaya. [31]
Dalam pandangan gereja Kharismatik orang-orang yang berpegang pada firman Tuhan akan mengalami kesempurnaan kekal apabila seseorang telah mengalami kehadiran roh kudus, telah dipenuhi oleh Roh Kudus untuk melakukan bahasa roh dan penyembuhan ilahi. Gerekan kkarismatik yang funmental membangun ajarannya dari Rom 12 dan 1Ko 12:4[32] Menurut kharismatik penerimaan Roh Kudus adalah bukti penerimaan baptisan roh yang disertai dengan karunia berbahasa lidah. Namun menurut salah seorang tokoh kharismatik bernama Dennis Bennet mengatakan bahwa “berkata-kata dengan bahasa roh itu bukan syarat untuk mendapat keselamatan. Dan juga bukan syarat untuk menerima Roh Kudus. Menurut ajaran gerakan ini juga bahwa tiap-tiap orang yang telah dibabtis dengan Roh Kudus dapat berkata-kata dengan bahasa roh[33] Lebih dalam menurut Dennis Binnet ‘yang berkata-kata dengan bahasa roh bukan Roh Kudus tetapi roh kita. Roh Kudus hanya menginspirasi roh kita dan kita sendiri yang harus mengawasi roh kita itu. sekali lagi diingatkan bahwa Tuhan tidak memaksa siapapun. Ia hanya memberikan karunia bahasa roh kepada kita, kalau kita menghendakinya[34]          
V. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, penulis menyimpulkan beberapa hal:
Pertama, natur bahasa roh yang dikaruniakan Roh Kudus kepada orang percaya adalah kemampuan seseorang untuk mengucapkan bahasa asing tanpa terlebih dahulu mempelajarinya. Bahasa asing yang dimaksud adalah bahasa manusia yang dapat dimengerti oleh pemakai aslinya.
Kedua, Roh Kudus memberikan karunia ini dengan dua tujuan: sebagai alat untuk mengabarkan injil dan sebagai alat untuk membangun jemaat. Oleh sebab itu, setiap aplikasi dari karunia ini harus diterapkan dalam koridor dua tujuan pemberian di atas jika tidak maka akan menimbukan skandalon dalam jemaat. Bahasa roh bukan menjadi penentu untuk membuktikan bahwa jemaat  beriman kepada Allah.
Ketiga, karunia bahasa roh dapat disalahgunakan, baik untuk tujuan menyombongkan diri dengan menjadikan karunia berbahasa roh sebagai bahan pertunjukan maupun dalam bentuk “kebodohan,” yakni mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti baik oleh pembicara maupun pendengar, sehingga apa yang dilakukan tidak mencapai tujuan apa pun juga serta tidak membawa manfaat kepada siapa pun juga.
Keempat, karunia bahasa roh tidak dapat dijadikan baik sebagai tolok ukur tingkat kerohanian—apalagi sebagai prasyarat keselamatan—seseorang, maupun alat untuk mencapai kebangunan rohani sebuah Gereja, karena karunia ini diberikan bukan untuk tujuan tersebut. Karunia bahasa roh tidakberfungsi sebagai penentu tingkat spiritualitas seseorang. Zaman ini,terdapat kelompok-kelompok tertentu yang mengajarkan bahwa kemampuan berbahasa roh merupakan tanda tingginya tingkat kerohanian seseorang, bahkan tidak sedikit yang menjadikannya sebagai prasyarat untuk menerima keselamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Abineno J.L.Ch
1980    Karunia-karunia Roh Kudus, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Aritonang Jan S
1995    Berbagai aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Brown Colin (ed),
1978    Dictionary of New Testament Theology Vol.3, Michigan :Exeter The Paternoster Press, USA
Crim Keith dan Victor Paul Furnish (ed)
1976    The Interpreter’s Dictionary of The Bible,),  Nashville : Parthenon Press, USA
Douglas J. D. (Peny)
1982    Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih
Enns Paul
2004    The Moody Hand Book of Theology, Malang: Literatur Saat
Liotohe Wimanjaya K
1985    Mengenal Karunia-karunia Roh Kudus, Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Immanuel
Lumbantobing Darwin
2007    Teologi di Pasar Bebas, Pematangsiantar : L-SAPA
Pasaribu H
2001    Penjelasan Lengkap Iman Kristen, Jakarta : Atalya Rileni Sudeco (ARS)
Njiolah P. Hendrik
2003    Misteri Bahasa Roh, Yokyakarta: Yayasan Pustaka Nusantar
Sugiri I
1982    Gerakan Kharismatik: Apakah itu? Jakarta: BPK Gunung Mulia
Tobing Viktor L
2006    Roh Kudus, Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahaan Alkitab
Th. Van den End
1997    Tafsiran Surat Roma, Jakarta: BPK Gunung Mulia
http://www.tftwindo.org/livingwords/LW18.htm, Pematang Siantar, 1 Juni 2010
http://www.gkr-gedong.org/?pilih=lihat&id. Pematang Siantar, 1 Juni 2010


[1]Markus 16:17 LAI TB:,…. mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
KJV:……; they shall speak with new tongues; TR: σημεια δε τοις πιστευσασιν ταυτα παρακολουθησει εν τω ονοματι μου δαιμονια εκβαλουσιν γλωσσαις λαλησουσιν καιναις.Translit. interlinear, sêmeia {tanda-tanda (ajaib)} de {lalu} tois {(orang-orang yang)} pisteusasin {percaya} tauta {ini} parakolouthêsei {akan menyertai} en {demi} tô onomati mou {namaku} daimonia {roh-roh jahat} ekbalousin {mereka akan mengusir } glôssais {dengan bahasa-bahasa (dengan lidah-lidah)} lalêsousin {mereka akan bicara} kainais {baru}. http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html, Diakses,Pematang Siantar, 1 Juni 2010
[2] Bayer (art) “γλώσσα, dalam The Interpreter’s Dictionary of The Bible, Keith Crim dan Victor Paul Furnish (ed),  Nashville : Parthenon Press, USA, 1976, hlm, 908-909.
[3] Kisah 2:4: LAI TB, Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya
[4] 1 Korintus 14:2: LAI TB, Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.
[5] 1 Korintus 12:10: LAI TB: Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan 'BAHASA ROH', dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan 'BAHASA ROH' itu.
LAI TL: dan kepada orang lain, perbuatan mudjizat, dan kepada jang lain nubuat, dan kepada jang lain membedakan segala roh, dan kepada orang lain berdjenis-djenis 'KARUNIA LIDAH', dan kepada jang lain pengetahuan mengartikan makna 'LIDAH' itu.
KJV: To another the working of miracles; to another prophecy; to another discerning of spirits; to another divers kinds of tongues; to another the interpretation of tongues:
TR: αλλω δε ενεργηματα δυναμεων αλλω δε προφητεια αλλω δε διακρισεις πνευματων ετερω δε γενη γλωσσων αλλω δε ερμηνεια γλωσσων
Translit. Interlinear: allô de{(dan kepada yang lain)} energêmata {perbuatan2} dunameôn {(yang menghasilkan) mujizat2} allô {yang lain} de {dan} prophêteia {karunia memberi pesan (nubuat)} allô {(kepada) yang lain} de {dan} diakriseis {membedakan} pneumatôn {roh-roh} heterô {yang lain} de {dan} genê {jenis-jenis} glôssôn {bahasa-bahasa lidah} allô {(kepada) yang lain} de {dan} hermêneia {penerjemahan/ penafsiran} glôssôn {bahasa bahasa lidah (bahasa-bahasa roh)}. http://www.sarapanpagi.org/karunia-bahasa-roh-vt110.html, Diakses,Pematang Siantar, 1 Juni 2010
[7] P. Hendrik Njiolah, Misteri Bahasa Roh, Yokyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara, 2003, hlm. 6-7
[8] http://www.tftwindo.org/livingwords/LW18.htm, Diakses, Pematang Siantar, 1 Juni 2010
[9]P. Hendrik Njiolah, Op.Cit, hlm. 7
[10] Ibid, hlm. 8
[11] Ibid, hlm. 11-12
[12] Ibid, hlm.12
[13]Ibid, hlm. 13-18
[14] Ibid, hlm. 19-21
[15] J. D. Douglas (Peny), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1982, hlm.132-133.
[16] http://www.gkr-gedong.org/?pilih=lihat&id. Diakses, Pematang Siantar, 1 Juni 2010
[17] Viktor L Tobing, Roh Kudus, Medan: Yayasan Persekutuan Doa dan Penelaahaan Alkitab, 2006, hlm. 125-126
[18] David. L Baker. Roh dan Kerohanian dalam Jemaat :Tafsiran surat 1 Korintus 12-14, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996, hlm. 31-32
[19] Ibid, hlm.31-32.
[20] Wimanjaya K. Liotohe (Alih Bahasa), Mengenal Karunia-karunia Roh Kudus, Jakarta : Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”, 1985,hlm. 118.
[21] Paul Enns, The Moody Hand Book of Theology, Malang: Literatur Saat, 2004,hlm. 332-333.
[22] Th. Van den End, Tafsiran Surat Roma, Jakarta: BPK Gunung Mulia,1997, hlm. 388
[24] P. Hendrik Njiolah, Op. Cit, hlm. 40-41
[25] Colin Brown (ed), Dictionary of New Testament Theology Vol.3, Michigan :Exeter The Paternoster Press, USA, 1978, hlm. 1078-1079.
[26] David. L Baker. Op.Cit, hlm. 26
[27] Rudolf H. Pasaribu, Penjelasan Lengkap Iman Kristen, Jakarta : Atalya Rileni Sudeco (ARS), 2001,hlm. 231-232.
[28] Jan S. Aritonang, Berbagai aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995, hlm.194.
[29] Darwin Lumbantobing, Teologi di Pasar Bebas, Pematangsiantar : L-SAPA, 2007, hln. 177-184
[30] J.L.Ch. Abineno, Karunia-karunia Roh Kudus, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980, hlm. 16-17.
[31] Ibid, hlm.19-20
[32] I. Sugiri, Gerakan Kharismatik: Apakah itu? Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1982, hlm. 135
[33] J.L.Ch. Abineno, Op. Cit,hlm. 16-17
[34] Ibid, hlm.18-19

Tidak ada komentar:

Posting Komentar